THE 17TH RED CROSS INTERNATIONAL HUMANITARIAN LAW MOOT (2019)

Tidak terasa sudah sebulan yang lalu tim IHL (International Humanitarian Law) Fakultas Hukum UNPAR yang terdiri dari Kevin Setiadi (2016), Moses Mesakh (2016), dan Theo Prawiradirdja (2017) berangkat ke Hong Kong untuk berlomba kembali di tingkat internasional setelah berhasil menembus babak national round November yang lalu di Bandung. Di tingkat internasional ini, peserta yang ikut berpartisipasi dalam kompetisi di Hong Kong ada 24 universitas dari berbagai negara di asia-pasifik, termasuk Australia dan Selandia Baru. Kompetisi ini diadakan oleh Hong Kong Red Cross berkolaborasi dengan The University of Hong Kong dan The Chinese University of Hong Kong pada tanggal 6 – 9 Maret 2019.

Pada hari pertama, babak penyisihan dilangsungkan di Fakultas Hukum Universitas Hong Kong. Semua delegasi ada pada hotel yang sama yaitu di Panda Hotel. Kami berangkat bersama-sama sekitar pukul 12 siang. Babak pertama penyisihan dimulai sekitar jam 3 sore dan babak kedua pukul 6 sore. Dibabak penyisihan ini, semua tim akan bertanding sebanyak dua kali yaitu sebagai jaksa penuntut (prosecutor) dan sebagai terdakwa (defendant). Hasil dari babak penyisihan ini, yaitu dari 24 tim yang bertanding akan mengerucut menjadi 8 tim terbaik yang akan lanjut ke babak quarter-final. Tim UNPAR berhasil meraih peringkat ke-9 di babak penyisihan. Hari kedua, yaitu pada tanggal 7 Maret, acara kami adalah ke markas besar palang merah Hong Kong (Hong Kong Red Cross, HKRC). Kami berangkat dari hotel sekitar pukul 10 pagi dan memulai acara di sana pukul 11. Sesampainya di HKRC, kami dikumpulkan di main ballroom untuk diberi petunjuk awal apa saja kegiatan yang akan kita lakukan. Acara pertama di HKRC adalah War Zone 90 (1). War Zone 90 (1) adalah simulasi perang yang ada di lantai 9 gedung HKRC. Sungguh pengalaman yang luar biasa, ketika kami berperan sebagai warga negara biasa yang ditawan oleh sejumlah tentara disuatu negara yang sedang perang. Tujuan dari War Zone 90 ini sebenarnya, agar mahasiswa hukum khususnya dibidang hukum militer internasional (IHL) dapat memahami lebih dalam tentang bagaimana perang itu terjadi. Dalam simulasi perang tersebut, kami dipindahkan dari suatu tempat ke tempat yang lain (deportation) dan juga ditahan disebuah sel yang sangat sempit. Disimulasi inilah, kita dapat membayangkan apa saja batasan perang yang dapat dilakukan, sesuai dengan motto HKRC yaitu “even war have limits”. Setelah kita melewati simulasi perang tersebut, kami masuk ke dalam acara War Zone 90 (2), yaitu kita dibawa ke Movie Room HKRC di lantai 10. Kegiatan kedua kami di HKRC adalah menonton film tentang hukum perang yaitu Rules of Engagement yang dibintangi oleh Samuel L. Jackson. Setelah kegiatan War Zone (2), kami berkumpul dan berangkat ke Universitas Hong Kong untuk melanjutkan pertandingan babak quarter-final.

Hari ketiga, kegiatan kami dilangsukan di HKRC juga, tetapi kali ini adalah seminar tentang kemanusiaan dan seputar tentang palang merah internasional. Beberapa pembicara dari ICRC Hong Kong yang banyak membagikan ilmu tentang pentingnya hukum humaniter menjadi suatu konsentrasi dalam sebuah sekolah hukum, juga mereka membagikan informasi bagaimana mahasiswa fakultas hukum dapat bekerja di Non-Governmental Organization khususnya ICRC. Acara seminar pada hari itu terbagi menjadi 2 sesi, sesi pertama adalah pembicaraan satu arah dan sesi yang kedua lebih dua arah. Pada hari itu, kegiatan kami hanya di HKRC dan tidak ada pertandingan pada hari itu.

Babak semi-final dan final ada pada hari berikutnya. Suasana sidang berubah total karena kedua babak tersebut dilangsungkan di High Court Hong Kong. Semua delegasi yang bertanding seperti lawyer sungguhan yang sedang bersidang di International Criminal Court di The Hague, Netherlands. Setelah persidangan selesai, hakim memutuskan bahwa Peking University telah berhasil membebaskan terdakwa Don Mir dan memenangkan IHL 2019 ini setelah mengalahkan Singapore Management University. Setelah pertandingan selesai, semua delegasi akhirnya bersantap malam bersama di Charterhouse Hotel Hong Kong. Semua peserta IHL 2019 tampak berkenalan satu dengan yang lainnya dan juga bersama para hakim. “Saya juga mendapatkan banyak teman-teman baru yang berasal dari berbagai negara, terutama negara-negara anggota ASEAN” ujar Kevin.

Pembelajaran yang kami dapat dari IHL 2019 di Hong Kong ini sangat beragam. Menurut Theo, kualitas pertanyaan yang diajukan oleh hakim jauh dari ekspetasi yang Ia bayangkan. “wah, pertanyaannya beda banget ya sama national-round, semua pertanyaan di International-round bukan pertanyaan yang basic.” ujar Theo. Kasus (moot problem) dari babak Internasional ini pun menjadi tantangan baru bagi tim, tingkat kesulitannya jauh lebih tinggi. “Proses persiapan yang dilakukan lebih intensif sebab terdapat banyak hal yang perlu dipersiapkan dalam waktu yang singkat, 3 bulan kurang lebih” tambah Kevin. Tentunya semua pengalaman dan apa yang telah kita dapatkan dalam IHL 2019 di Hong Kong ini dapat berguna untuk kita nantinya sebagai Sarjana Hukum. “Terutama kita sebagai mahasiswa sudah dihadapkan dengan kasus yang tidak mudah dan kita dipaksa untuk memacu otak kita untuk berargumen di depan hakim, tentu argumen yang kita buat tidak ada gunanya jika kita tidak menyertakan dasar-dasar hukum yang kuat” ucap Moses. Akhir kata, tim IHL Fakultas Hukum UNPAR sangat berterima kasih kepada pelatih yaitu Mr. Hary Elias, Mr. Heru Muzaki, dan Mr. Adrianus Ramon. Tentu juga kepada Parahyangan International Law Society (PILS) yang telah mendukung tim IHL selama persiapan mengikuti lomba ini.