PLC 2020, Penegakan Hukum dan Hak Asasi Manusia Berlandaskan Cita Hukum Pancasila

Fakultas Hukum Universitas Katolik Parahyangan (FH Unpar) kembali menyelenggarakan kegiatan Parahyangan Legal Competition (PLC) pada Jumat hingga Minggu, 28 Februari – 1 Maret 2020, di Kampus Universitas Katolik Parahyangan. PLC sendiri adalah program tahunan yang rutin diselenggarakan oleh FH Unpar sejak 2018. Kegiatan ini mencakup 4 kegiatan utama, diantaranya adalah Seminar Nasional, Lomba Karya Tulis Ilmiah, serta Lomba Debat antar SMA dan Universitas.

Kegiatan ini didedikasikan bagi Prof. Soediman Kartohadiprodjo dan Prof. Bernard Arief Sidharta. Keduanya merupakan ahli hukum yang dengan sangat konsisten mengembangkan Filsafat Pancasila dan hukum Indonesia. Selain itu, mereka juga berpartisipasi secara aktif dalam mengembangkan FH Unpar. 

Adapun acara yang terselenggara berkat kerjasama FH Unpar dan Tim Kerjasama untuk Pencegahan Penyiksaan (KUPP) serta didukung oleh sejumlah alumni berfokus pada tema besar “Penegakan Hukum dan Hak Asasi Manusia Berlandaskan Cita Hukum Pancasila”. Tema ini kemudian diturunkan dalam tema-tema yang lebih konkret dan diusung dalam berbagai lomba seperti Lomba Karya Tulis Ilmiah serta Lomba Debat antar SMA dan Universitas.Siswa-siswi SMA dan mahasiswa hukum berdebat dan menulis mengenai tema-tema yang telah dikerucutkan menjadi lebih kompleks sesuai dengan aktualisasinya dalam masyarakat. 

Sesuai dengan tema besar tersebut, Seminar Nasional PLC mengangkat topik “Pelaksanaan Cita Hukum Pancasila melalui Pencegahan Penyiksaan di Dalam Pengembangan Sistem Hukum Indonesia”. Topik ini selaras dengan program Pengembangan Mekanisme Pencegahan Penyiksaan yang dikembangkan oleh Lima Lembaga Negara yakni Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK), Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Komnas HAM, Ombudsman Republik Indonesia (ORI), dan Komnas Perempuan.

Kompetisi Hukum

Pada tahun ini, PLC diikuti oleh 20 delegasi peserta Lomba Karya Tulis Ilmiah, 16 delegasi Lomba Debat tingkat Universitas, dan 16 delegasi lomba debat tingkat SMA. Dengan diadakannya kompetisi ini, lebih dari 140 kaum muda Indonesia turut serta dalam berpikir mengenai penegakkan hukum dan HAM di Indonesia yang berakar pada Pancasila. 

Diharapkan dengan mengikuti kegiatan ini, nantinya kaum muda akan semakin terbangun kesadarannya untuk melaksanakan Konvensi Anti Penyiksaan (the United Nations Convention against Torture and other Cruel, Inhuman, or Degrading Treatment or Punishment) agar setiap orang terlindung dari tindak penyiksaan. Selain itu peserta juga dihadapkan pada pertanyaan tentang pentingnya pencegahan penyiksaanmelalui mekanisme yang terukur sebagaimana dimuat dalam Optional Protocol to the Convention Against Torture (OPCAT). Pasalnya, Konvensi Anti Penyiksaan telat diratifikasi dengan UU No. 5 Tahun 1998 namun OPCAT hingga saat ini belum juga diratifikasi. 

Para peserta PLC pun diharapkan akan memahami urgensi meratifikasi OPCAT serta membangun mekanisme nasional terukur yang bertujuan untuk mencegah penyiksaan agar Indonesia memiliki instrumen pelengkap yang memungkinkan negara ini melakukan langkah-langkah terdepan dalam mencegah serta menghapus berbagai tindakan penyiksaan di Indonesia.

Dalam Kompetisi Debat tingkat SMA, SMAN 2 Garut berhasil meraih juara pertama diikuti oleh SMAN 1 Garut yang menjadi runner-up. Sedangkan untuk tingkat Universitas, Universitas Airlangga Surabaya berhasil meraih juara pertama diikuti oleh Universitas Hasanuddin Makassar yang menjadi runner-up. Pada Lomba Karya Tulis Ilmiah, Universitas Gadjah Mada Yogyakarta berhasil menduduki juara pertama diikuti oleh Universitas Diponegoro Semarang sebagai runner-up 1 dan Universitas Katolik Darma Cendika Surabaya sebagai runner-up 2. (/JNS,DAN)

Sumber: www.unpar.ac.id